<![CDATA[Karimun Tourism - Official Site - BLOG]]>Wed, 08 May 2019 07:52:10 +0700Weebly<![CDATA[Usai Festival Barongsai 2019, Karimun Bakal Dimeriahkan Lampu Colok]]>Fri, 03 May 2019 03:35:50 GMThttp://karimuntourism.com/news/usai-festival-barongsai-2019-karimun-bakal-dimeriahkan-lampu-colok
​TANJUNG BALAI KARIMUN – Kemeriahan Tanjung Balai Karimun sebagai destinasi wisata berlanjut. Usai penyelenggaraan Festival Barongsai 2019, Karimun siap merilis Lomba Lampu Colok 2019. Event ini kental warna tradisional masyarakat Karimun.
 
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tanjung Balai Karimun Zamri mengungkapkan, Karimun akan terus memberikan atraksi untuk wisatawan.
 
“Karimun akan terus memanjakan wisatawan. Kita akan berusaha menjadi destinasi terbaik. Kami punya banyak event. Penyelenggaraan Festival Barongsai sudah selesai dan sukses. Namun, kami sudah siapkan event lanjutan. Jadi, wisatawan tetap mendapat banyak experience terbaik. Tetap berkunjung ke Karimun dan nikmati eksotisnya,” ungkap Zamri, Jumat (3/5).
 
Salah satu event yang akan digelar adalah Lomba Lampu Colok 2019. Lomba ini digelar untuk memeriahkan suasana Ramadan di wilayah Karimun. Lampu Colok di Karimun kental dengan nuansa tradisional. Sebab, masih memakai lampu sumbu dengan bahan bakar minyak tanah. Festival tahun ini pun menjadi episode 5 Lomba Lampu Colok Karimun.
 
“Karimun menjadi destinasi luar biasa. Keberagaman budayanya tinggi dan semua saling menguatkan. Lomba Lampu Colok 2019 tentu menjadi experience terbaik. Secara konten, Lampu Colok ini sangat artistik apalagi Karimun mempertahankan tradisi dengan penggunaan lampu minyak,” terang Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.
 
Lampu Colok ini biasanya mengadopsi obyek yang berbau Islami. Rangkanya berbentuk Masjid atau Gapura dengan ornau men Islam. Setiap sisi rangka lalu ditempatkan Lampu Colok atau Lampu Minyak. Lampu-lampu ini disusun sedemikian rupa untuk menegaskan karakter obyek yang dimaksud. Untuk 1 obyek bangunan, biasanya menggunakan ribuan Lampu Colok.
 
“Menggunakan Lampu Minyak tentu tidak mudah. Di sini membutuhkan kecermatan tinggi karena tingkat kerumitannya. Hal inilah yang menjadi daya tarik utama Lomba Lampu Colok 2019 di Karimun. Untuk itu, pastikan Karimun tetap menjadi destinasi utama Ramadan,” jelas Rizki lagi.
 
Penyelenggaraan Lomba Lampu Colok 2019 dijamin lebih meriah. Sebab, venuenya berada di Karimun dan Kundur. Total melibatkan 7 kecamatan. Rinciannya, ada 4 kecamatan di Kundur dan 3 kecamatan Karimun. Proses penilainnya akan dimulai dimulai 27 Ramadan 1439 H. 

Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati mengatakan, tahun ini event digelar lebih meriah.
 
“Lomba Lampu Colok 2019 diikuti lebih banyak peserta, apalagi kini Kundur dilibatkan. Kemeriahannya pasti lebih terasa. Suasana Ramadan di Karimun selalu meriah dengan beragam event. Karimun tetap menjadi destinasi menarik. Apalagi, lomba digelar dengan konsep unik,” kata Dessy.
 
Beberapa regulasi perlombaan diterapkan. Lomba Lampu Colok 2019 harus dibangun gapura dengan arsitektur Islami indah. Tinggi pintu gapura minimal 4 meter. Posisinya tidak menutup drainase dan badan jalan. Lebih lanjut, penempatannya jauh dari instalasi listrik umum. Proses penilaiannya dimulai 27 Ramadan selama 3 hari penuh. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi 085213827262.
 
“Regulasi perlombaan intinya tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Agenda ini tentu akan semakin menghidupkan pariwisata Karimun. Kami optimistis, event unik seperti itu juga akan mendatangkan banyak wisatawan,” papar Kabid Pengembangan Pemasaran Area II Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Trindiana M Tikupasang.
 
Apresiasi besar pun disiapkan bagi pemenang lomba. Total hadiahnya sekitar Rp37 Juta. Pemenang akan mendapatkan hadiah Rp10 Juta, lalu posisi runner up diganjar uang Rp8 Juta. Posisi 3 memperoleh uang Rp6 Juta. Sebaran hadiah semakin merata karena posisi 4 dihadiahi Rp4 Juta, lalu Rp3 Juta bagi urutan ke-5. Lalu, posisi 6 mendapatkan Rp2 Juta. Khusus strip 7 hingga 10 masing-masing dihadiahi Rp1 Juta.
 
“Lomba Lampu Colok 2019 Karimun merupakan atraksi luar biasa. Kontennya sangat unik dan menarik. Event ini menjadi salah satu daya tarik wisata halal di Karimun. Apalagi, Karimun memiliki aksesibilitas dan amenitas yang luar biasa,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya. (*)
]]>
<![CDATA[Kalahkan Malaysia-Singapura, Tim Karimun Juara 1 Dan 2 Festival Barongsai 2019]]>Sat, 27 Apr 2019 17:00:00 GMThttp://karimuntourism.com/news/kalahkan-malaysia-singapura-tim-karimun-juara-1-dan-2-festival-barongsai-2019
Karimun - Festival Barongsai yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kepri tahun 2019, di panggung rakyat Putri Kemuning Coastal Area Kabupaten Karimun selama dua hari selesai digelar, Sabtu (27/4/2019) malam.

Event masuk sebagai kalendar tahunan Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) tersebut diikuti sebanyak 14 tim. Selain se-Provinsi Kepri, juga ada tim dari negara Malaysia dan Singapura yang ikut berpartisipasi dalam festival tersebut.

Meskipun tampil dibawah angin kencang dan gerimis, 2 dari 3 tim tuan rumah (Kabupaten Karimun) mampu mengukir prestasi terbaik, yakni juara 1 dan juara 2.

Tim tuan rumah yang keluar sebagai juara 1 dengan membawa pulang hadiah berupa uang sebesar Rp 25 juta ditambah piala adalah Hoa Sen dari Kecamatan Meral. Tim menampilkan aksi dengan tema ‘Singa Mencari Chai Chin di Sungai’ ini memperoleh poin 8,80. 

Kemudian juara 2 tim Kuangnan Bima Satya. Tim dari Tanjung Batu Kundur menampilkan aksi dengan tema ‘Menelusuri Halaman Rumah yang Misterius’ tanpa ada pemotongan nilai. Poin yang diperolehnya 8,78 poin. Untuk uang pembinaan didapat Rp 20 juta ditambah piala.

Kemenangan yang diraih tim rumah tersebut mendapat apresiasi dari Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

"Sejak awal bertanding di ruang terbuka tidak mudah. Sebab, ada faktor angin. Namun Mentalitas juara mereka memang kuat dan menyudahi pertunjukan dengan tanpa pemotongan nilai. Ini perlu kita berikan apresiasi," ujar Rizki.

Sementara itu juara 3 didapat tim Hoon Hong dengan menampilkan tema ‘Barongsai Mabok Anggur’ asal Singapura. Poin yang diperoleh tim ini 8,66 dan menerima uang pembinaan Rp 17 juta.
Kemudian juara harapan 1 mengumpulkan 8,65 poin tim Persatuan Kebudayaan dan Sukan Yan Wong dari Malaysia. Juara harapan 2 tim Thai Hing Nam Wah dengan skor 8,63. Juara harapan 3 tim Zhu Yun Gong asal Singapura.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri Buralimar saat diwawancara wartawan merasa senang, Festival Barongsai tahun berlangung  sukses. Itu semua tidak terlepas adanya kerjasama Disparbud Karimun dan Kemenpar RI.
"Event berjalan lancar, lalu respon besar diperlihatkan publik. Secara keseluruhan kami puas. Tahun depan peserta festival yang tujuannya untuk mendongkrak wisman dari luar negeri diusahakan 20 tim. Karena FOBI menyampaikan banyak tim dari Hongkong, Taiwan dan Thailand yang berminat ikut," ucapnya.
]]>
<![CDATA[karimun dipilih sebagai tuan rumah festival barongsai 2019]]>Thu, 18 Apr 2019 17:00:00 GMThttp://karimuntourism.com/news/karimun-dipilih-sebagai-tuan-rumah-festival-barongsai
Karimun - Pemerintah Provinsi  Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) melalui Dinas Pariwisata (Dispar) kembali menggelar event berskala internasional, yakni "Festival Barongsai" tahun 2019. Kembali, Pemprov Kepri memilih daerah berlandaskan 4 Azam  (Kabupaten Karimun) menjadi sebagai tuan rumah pelaksanaan festival tersebut. Tercatat sudah yang ketiga kalinya Kabupaten Karimun dipercaya sebagai tuan rumah.
Event berskala internasional itu akan dilaksanakan dari tanggal 26-27 April nanti di panggung rakyat Putri Kemuning Coastal Area Tanjung Balai Karimun.

"Karimun pintu masuk wisawatan mancanegara selain Batam, Tanjungpinang dan Bintan. Disparbud Karimun awalnya yang mengadakan Festival Barongsai, Dispar Kepri bantu back up," ujar Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kepri Buralimar menyampaikan alasan memilih Kabupaten Karimun sebagai tuan tumah festival tersebut saat dikonfirmasi kepriterkini.id, Jumat (19/4/2019).

Seperti diberitakan sebelumnya, tujuan diadakan Festival Barongsai sebagai ajang mempromosikan daerah, daya tarik meningkat kunjungan wisatawan domestik dan juga mancanegara.
Tujuan lain sambungnya, pelestarian nilia-nilai budaya di Kepri serta mendorong pertumbuhan ekonomi disektor pariwisata. Buralimar menyebutkan, festival Barongsai yang sudah menjadi agenda rutin (tahunan) Dispar Kepri tahun ini diikuti 
 
"Festival Barongsai tahun ini sebanyak 14 tim. Rinciannya 7 tim dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura, 7 tim lagi dari Indonesia asal Kepri. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya 12 tim," jelasnya. Buralimar menyakini, atraksi yang ditampilkan dari masing-masing tim atau peserta pada festival tersebut bakal memukau para penonton.

​"Atraksi barongsai sangat digemari wisatawan, sehingga yakin event ini pun bakal menarik banyak pelancong. Tahun ini, Kepri targetkan kunjungan wisatawan sebanyak 200 ribu orang. Target ini khusus pada festival Barongsai," katanya mengakhiri.
]]>
<![CDATA[PENYAMBUTAN WISATAWAN MANCANEGARA 2019]]>Wed, 02 Jan 2019 02:43:21 GMThttp://karimuntourism.com/news/penyambutan-wisatawan-mancanegara-2019
Riuh kompang menandai penyambutan wisatawan perdana dari Malaysia & Singapura ke Tanjung Balai Karimun dilaksanakan selasa pagi (1/1/2019). Sejumlah wisatawan disambut oleh pejabat dari lingkungan Pemerintah Kabupaten Karimun. Wakil Bupati Karimun, Anwar Hasyim turut serta mengalungkan bunga kepada wisatawan yang pertama menginjakkan kaki di Kabupaten Karimun Bumi Berazam di Tahun 2019. Wisatawan lalu diberikan setangkai bunga telur dan acara diakhiri dengan pembagian Voucher Hotel bagi wisatawan yang beruntung.
]]>
<![CDATA[disparbud karimun gelar workshop tari & musik]]>Fri, 31 Aug 2018 17:00:00 GMThttp://karimuntourism.com/news/disparbud-karimun-gelar-workshop-tari-musik
gerbangkepri.co.id - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Karimun Provinsi Kepri menggelar workshop tari dan musik di Hotel Balai View Tanjung Balai Karimun. 

Workhsop berlangsung selama tiga hari diikuti 7 sanggar dari Pulau Kundur, 2 sanggar dari Moro, sanggar-sanggar di Pulau Karimun besar serta utusan-utusan dari SLTP dan SLTA ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karimun Zamri, Jumat (31/8/2018).

Dalam kegiatan ini dihadirkan sebanyak tiga orang narasumber dari Pusat, Riau dan Karimun.
Kadisparbud Kabupaten Karimun mengatakan, tujuan workhsop untuk menggali dan mengembangkan serta melestarikan nilai-nilai seni budaya, terutama seni tari dan musik khususnya seni budaya Melayu yang merupakan jati diri serta merupakan kekayaan intelektual bangsa.

Selain itu tujuan lainnya, sebagai ajang penyaluran ide dan bakat seni yang bernilai positif bagi pekerja seni musi serta tari di Kabupaten Karimun.

"Workshop setiap tahun dilaksanakan ini untuk silaturahmi antara sesama pekerja seni dan juga menimba ilmu, menyamakan persepsi dalam berksenian dan berbudaya juga meningkatkan SDM 
SDM dibidang seni dan tari," ungkapnya.

Zamri juga menyampaikan, Disparbud Karimun juga membantu sanggar-sanggar dibawah binaannya mendapatkan dana pembinaan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar RI).

"Tahun 2018 ini ada 5 sanggar yang mendapatkan dana pembinaan dari Kemenpar RI. Masing-masing sanggar senilai Rp 100 juta. Untuk tahun 2017 ada 3 sanggar menerima dana hibah tersebut," pungkasnya.
]]>
<![CDATA[apresiasi seni & budaya semarakkan hut ri 73]]>Sat, 18 Aug 2018 17:00:00 GMThttp://karimuntourism.com/news/apresiasi-seni-budaya-semarakkan-hu-ri-73
Silabuskepri.co.id, Karimun — Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 Tahun, Pemkab Karimun melalui Dinas Parawisata dan Budaya (Disparbud) bekerja sama dengan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) menggelar kegiatan malam apresiasi seni & budaya, Sabtu (18/08/2018) Malam, di Panggung Putri Kemuning Coastal Area
Dalam kegiatan ini di ikuti oleh berbagai suku yang ada di Kabupaten Karimun dan tergabung dalam wadah FPK (Forum Pembauran Kebangsaan) Salah satu diantaranya Suku Nias sumatera utara yang di motori oleh Paguyuban Masyarakat Nias Indonesia (PMNI) Karimun.
Dalam kesempatan itu, Suku Nias mempersembahkan “Tari Maena” Menurut sejarahnya, Tari Maena ini merupakan salah satu tarian tradisional masyarakat suku Nias yang sudah ada sejak dahulu kala, dan sudah diwariskan secara turu-temurun hingga sekarang.
Sejak dulu tarian ini sering dilakukan sebagai bagian dari seremonial adat masyarakat suku Nias. Kebiasaan tersebut kemudiaan terus berlanjut dan masih sering dilakukan hingga sekarang.” Kata seorang pembawa acara
Soginoto Daeli selaku ketua PMNI Karimun menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Daerah Karimun dan FPK atas kesempatan yang diberikan utk menampilkan tarian budaya Suku Nias ditengah-tengah kemajemukkan yang ada di kabupaten Karimun.
“Terima kasih kepada Pemkab Karimun dan FPK yang memberi kesempatan kepada Masyarakat Suku Nias untuk menampilkan Budaya nya ditengah-tengah kemajemukkan walau dilihat dari segi kuantitas minoritas” Kata Daeli.
Dari pantauan silabuskepri co.id kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari 18-20 Agustus 2018. (James Nababan)
]]>
<![CDATA[LESTARIKAN BUDAYA LEWAT FESTIVAL REOG]]>Fri, 17 Aug 2018 17:00:00 GMThttp://karimuntourism.com/news/lestarikan-budaya-lewat-festival-reog
batampos.co.id – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karimun menggelar Festival Reog di Coastal Area, Sabtu (18/8). Festival dibuka Bupati Karimun, Aunur Rafiq. Festival ini diikuti tiga grup yakni Gembong Singo Mudo Bukit Tiung, Singo Bangkit Alur Jongkong, dan Singo Anom Junior Bukit Tiong.
”Festival digelar selain sebagai ajang menjalin tali silaturahmi antarbudaya reog, sekaligus untuk melestarikan kebudayaan nusantara yang ada di Karimun ini,” ujar Aunur Rafiq.
Apalagi Karimun yang berba­ta­s­an langsung dengan Malaysia dan Singapura, festival ter­se­but bisa menjadi daya tarik ters­endiri agar wisman manca ne­gara mau berkunjung ke Karimun. ”Kita patut bersyukur, Kabupaten Karimun memiliki banyak sekali kebudayaan dan kesenian. Semua hidup rukun berdampingan,” terangnya.
Pada festival reog kali ini, juara pertama diraih grup reog Gembong Singo Mudo Bukit Tiung Karimun, disusul Singo Bangkit Alur Jongkong Tebing, serta Singo Anom Junior Bukit Tiung. Untuk juara pertama berhak mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 10 juta, juara kedua Rp 7,5 juta, dan juara ketiga Rp 5 juta. (tri)
]]>
<![CDATA[hiburan rakyat dipusatkan di coastal area]]>Thu, 16 Aug 2018 17:00:00 GMThttp://karimuntourism.com/news/hiburan-rakyat-dipusatkan-di-coastal-area
Batampos.co.id – Menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 RI, Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kabupaten Karimun menyelenggarakan berbagai kegiatan masyarakat di Coastal Area. Mulai perlombaan jong, panjat pinang, hingga balap karung.
Kegiatan dimulai dengan perlombaan jong di Pantai Pelawan oleh Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim, Kamis (16/8). ”Kegiatan ini sebagai hiburan masyarakat sekaligus menyemarakan HUT ke-73 RI,” kata Kepala Dispar Kabupaten Karimun Zamri, kemarin.
Kegiatan tersebut, lanjut Zamri, juga sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan keber­samaan warga. ”Walaupun hadiahnya tidak besar, tapi rasa kebersamaan dan kekompakan dalam meraih hadiah itu yang menjadi seru,’’ tuturnya.
Selain lomba, Jumat (17/8) malam pihaknya juga akan menyelenggarakan festival reog di Coastal Area. Rentetan kegiatan ter­sebut selain meng-hibur diharapkan bisa mendong­krak ekonomi. Terutama para pedagang yang ber­jualan di area Coastal Area.
”Mudah-mudahan bi­sa mendongkrak wisatawan luar negeri. Sebab, ne­gara tetangga biasanya berkunjung ke Karimun,’’ ujarnya.
Pantauan di lapangan, kemeriahan hari kemerdekaan RI begitu terasa di Coastal Area. Ratusan bendera merah putih berkibar di sepanjang kawasan yang menjadi salah satu tempat wisata di Karimun tersebut.(tri)
]]>
<![CDATA[Ratusan Peserta Ikuti Lomba Jong Di Pantai Pelawan]]>Thu, 09 Aug 2018 17:00:00 GMThttp://karimuntourism.com/news/ratusan-peserta-ikuti-lomba-jong-di-pantai-pelawan
Karimun (Kepriterkini.co.id) - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Karimun Provinsi Kepri kembali menggelar lomba jong tahun 2018 ini. Kali ini lomba yang digelar di Pantai Pelawan berlangsung sekitar tiga hari sejak, Jumat (10/8/2018) diikuti lebih dari 300 peserta. Peserta yang mengikuti tidak hanya dari Kabupaten Karimun atau se-Provinsi Kepri, tapi sejumlah daerah di Provinsi Riau bahkan dan dari Malaysia juga ambil bagian dalam lomba tersebut.
Lomba ini secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim didampingi Kadisparbud Zamri. Wabup Karimun mengatakan, lomba jong ini sudah menjadi event tahun Pemkab Karimun yang melekat di Disparbud. Tujuannya sambung Wabup, salah satu giat-giat untuk mendatangkan wisatawan mancanegara ke daerah berlandaskan empat azam ini. 
"Perlombaan jong merupakan budaya Kabupaten Karimun yang perlu dipertahankan dan dilestarikan agar tidak mati pada generasi berikutnya," pinta Amwar Hasyim. Dalam perlombaan ini Disparbud telah menyediakan hadiah untuk peserta yang keluar sebagai juara. Hadiah dimaksud berupa uang dan piala.
]]>
<![CDATA[festival lampu colok, tradisi saat ramadhan]]>Sun, 27 May 2018 02:30:00 GMThttp://karimuntourism.com/news/festival-lampu-colok-tradisi-saat-ramadhan
BATAMTODAY.COM, Karimun - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karimun kembali menggelar perlombaan Festival Lampu Colok tahun 2018, dengan total hadiah Rp37 juta.
Kabid Sejarah dan Cagar Budaya, Azmizar Firtarti, menjelaskan, untuk kriteria penilaian arsitektur bangunan gapura yang bernuansa Islami, harus terlihat keindahan dan kemeriahan lampu colok serta partisipasi masyarakat dalam ikut serta memeriahkan lampu colok tersebut.

"Untuk tinggi pintu gapura wajib minimal 4 meter, lebar gapura tidak mengenai drainase atau badan jalan dan tidak berada di area tegangan listrik. Dan untuk penilaian akan dimulai pada 27 Ramadhan 1439 H," kata Azmizar kepada BATAMTODAY.COM, Sabtu (26/5/2018).

Lebih jauh dikatakan, para pemenang akan mendapatkan uang pembinaan bagi juara I Rp10 juta, juara II Rp8 juta, juara III Rp6 juta, juara IV Rp4 juta, juara V Rp3 juta, juara VI Rp2 juta, dan juara VII, VIII, IX, X masing-masing mendapatkan Rp1 juta.

Biasanya perlombaan ini hanya di wilayah Pulau Karimun besar saja, namun kali ini seperti Pulau Kundur juga ikut berpartisipasi memeriahkan semarak festival lampu colok tersebut.

"Untuk penilaian di Karimun pada 27 Ramadhan dan untuk di Pulau Kundur 28 Ramadhan. Dan juri dari Kemenag, Dinas PU Karimun, serta LAM," katanya.

Dia juga mengatakan, perlombaan ini merupakan suatu bentuk budaya yang telah ada sejak dulu, di samping  juga untuk mengingatkan bahwa dahulu belum ada listrik dan hanya menggunakan lampu colok.

"Setidaknya dengan adanya lampu colok ini memberikan peringatan kepada kita, dahulu listrik belum ada dan hanya menggunakan lampu colok," katanya.

Dia berharap dengan diselenggarakannya festival lampu colok ini, memberikan kegembiraan bagi masyarakat Karimun dan dapat dipertahankan sebagai tradisi yang sudah melekat di hati masyarakat Karimun itu.
]]>